Senin, 19 Februari 2024

Sore ini, Rupiah Ditutup Melemah Dilevel Rp15.510

Baca Juga

Financialpost.ID – Dalam penutupan pasar sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 17 point walaupun sebelumnya sempat melemah 40 point dilevel Rp15.510 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.492.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp15.480 – Rp15.550.

Baca juga: The Fed: Suku Bunga Capai Puncaknya Pada 5,4 Persen

“Neraca perdagangan Indonesia kembali menorehkan surplus Rp 2,41 miliar pada November 2023. Ini merupakan surplus ke-43 kalinya sejak Mei 2020,” ujarnya.

Namun, nilai surplus perdagangan Indonesia turun jika dibandingkan US$ 3,48 miliar pada Oktober 2023. Bahkan surplus ini jauh menurun, jika dibandingkan dengan dari US$ 5,10 miliar pada bulan yang sama tahun 2022.

Capaian surplus pada November ini berada di bawah perkiraan pasar. Pasar memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia di bulan November sekitar US$ 3 miliar.

Ibrahim menambahkan, surplus kali ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini seiring dengan penurunan ekspor yang terjadi, imbas penurunan harga komoditas internasional.

Penurunan surplus perdagangan Indonesia di bulan November dan keungkinan Desember disebabkan oleh faKtor eksternal, yakni penurunan permintaan dunia menyebabkan penurunan Indeks Harga Perdagangan Internasional (IHPI) dan gejolak nilai tukar yang menyebabkan ketidakpastian perdagangan.

“IHPI mengalami penurunan dari 175,2 pada Oktober 2023, menjadi 174,5 pada November 2023. Adapun, penguatan nilai tukar dari Rp 15.916 per dolar AS di bulan oktober 2023 menjadi Rp 15.384 per dolar AS di bulan November 2023,” katanya.

Selain itu, faktor geopolitik, perang Rusia dan Ukraina, Israel dan Hamas serta faktor “wait and see” dari mitra dagang Indonesia menunggu kepastian Pemilu 2024, juga mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.

Namun demikian, adanya pengaruh dari faktor internal pada neraca perdagangan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbatas pada level 5%.

“Ini artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dibawah potensi optimal antara 5-6% per tahun. Hal ini tercermin dalam rasio investasi yang belum beranjak dari tingkat 30% terhadap PDB,” ujar Ibrahim

“Kemudian, dia mencatat kontribusi sektor manufaktur tahun 2022 sudah dibawah 20% dari PDB. Kontribusi manufaktur yang menurun ini diterjemahkan sebagai ‘deindustrialisasi’,” tutup Ibrahim.

Baca juga: BPS: Surplus Neraca Perdagangan Capai US$ 2,41 Miliar

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru