Senin, 19 Februari 2024

Harga Emas Naik Dipicu Sinyal Dovish dari The Fed

Baca Juga

Financialpost.ID – Harga emas menunjukkan stabilitasnya dalam perdagangan Asia pada pagi Rabu (27/12) setelah keluar dari rentang perdagangan yang terlihat sepanjang bulan Desember.

Hal ini terjadi pasca rilis data inflasi AS yang lemah, yang kembali memicu spekulasi tentang potensi pemotongan suku bunga pada awal tahun 2024.

Baca juga: Rincian Harga Emas Hari Ini Saat Natal 2023

Pada pukul 08.00 WIB Rabu pagi, harga emas spot turun tipis sebesar 0,12% menjadi $2.065,39/oz, sementara emas spot yang akan berakhir pada bulan Februari mengalami kenaikan sebesar 0,35% menjadi $2.076,90/oz.

Menurut analisis dari Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer, harga emas telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa sesi terakhir. Keadaan ini dipicu oleh angka Indeks Harga PCE yang di bawah perkiraan, menjadi pengukur inflasi pilihan Federal Reserve.

Data PCE yang lemah, yang muncul setelah sinyal dovish dari The Fed dalam rapat terakhirnya untuk tahun 2023, menambah harapan bahwa bank sentral AS dapat memangkas suku bunga secepatnya pada Maret 2024.

Gagasan ini memberikan prospek yang kuat bagi emas, terutama karena suku bunga yang tinggi membuat biaya peluang untuk berinvestasi dalam emas lebih menarik.

Namun, para analis memperingatkan untuk tetap waspada terhadap koreksi harga yang mungkin terjadi, mengingat harga emas sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi.

Emas spot telah menembus rentang perdagangan $2.000 hingga $2.050 yang terbentuk selama sebagian besar bulan Desember. Saat ini, emas diperdagangkan kurang dari $100 dari rekor tertingginya, yang mencapai lebih dari $2.130/oz pada awal bulan.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Maret semakin menguat setelah data inflasi PCE yang lemah. FedWatch tool dari CME Group menunjukkan bahwa lebih dari 70% trader memperkirakan kemungkinan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret 2024.

Goldman Sachs bahkan memproyeksikan bahwa bank sentral akan melakukan pemotongan pada bulan Maret, disusul oleh dua pemotongan lagi pada paruh pertama tahun 2024, serta dua penurunan suku bunga lagi di tahun depan.

Meskipun beberapa pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa harapan untuk penurunan suku bunga pada awal 2024 mungkin terlalu optimis, pelemahan dolar ke level terendah lima bulan dan penurunan Treasury yields pada hari Selasa memberikan keuntungan bagi harga emas.

Logam mulia ini juga dapat diuntungkan dari memburuknya kondisi ekonomi global pada tahun mendatang, akibat dampak kebijakan moneter ketat yang dirasakan oleh negara-negara besar.

Dalam analisanya, Fischer meramalkan bahwa kenaikan harga emas saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk konflik geopolitik yang cenderung meluas.

Fokus utama saat ini adalah Laut Merah, di mana terdapat ketegangan yang terkait dengan kelompok Houthi dan perhatian terhadap kapal AS.

Dengan adanya ketegangan ini, kenaikan harga emas dapat terus berlanjut karena investor cenderung mencari perlindungan dalam aset safe haven seperti emas.

Menariknya, Fischer berpendapat bahwa kenaikan emas masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang, mungkin hingga awal bulan tahun baru.

Dalam konteks ini, perlu diingatkan bahwa keadaan geopolitik yang tidak stabil dapat mempertahankan minat investor terhadap emas sebagai pelindung nilai.

Fischer juga menyoroti bahwa, untuk hari ini, belum ada berita yang cukup signifikan yang dapat mengubah tren kenaikan harga emas secara drastis.

Secara umum, tren pasar masih menunjukkan pola kenaikan, dan belum ada tanda-tanda perubahan harga secara besar-besaran.

Baca juga: Emas Terus Menguat Efek Pelemahan Dollar AS

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru