Senin, 19 Februari 2024

OJK Terbitkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) di Triwulan III 2023

Baca Juga

Financialpost.ID – Otoritas Jas​a Keuangan (OJK) menerbitkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Triwulan III-2023 yang memuat overview dan analisis kondisi perekonomian global dan domestik serta kaitannya dengan perkembangan kinerja, penyaluran kredit atau pembiayaan, serta profil risiko yang dihadapi oleh perbankan.

Di sisi perekonomian global dan domestik pada periode laporan, disampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi beberapa negara utama mengalami divergensi seiring dengan ketidakpastian global yang meningkat.

Namun, meski begitu, ekonomi domestik pada triwulan III-2023 dinilai masih relatif tumbuh kuat sebesar 4,94%, walau memang melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,17%.

Baca juga: OJK Minta Bank Blokir 85 Rekening Pinjol Ilegal

Hal ini ditunjukkan oleh indikator perbankan. Kredit bank umum tumbuh 8,96% (YoY) meskipun melambat dari 11,00% YoY pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit tersebut turut didorong oleh membaiknya aktivitas usaha dan meningkatnya tingkat keyakinan  (optimisme) konsumen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae mengatakan, relatif kuatnya pertumbuhan ekonomi domestik utamanya didorong oleh permintaan yang solid.

Hal ini tecermin pada kuatnya konsumsi rumah tangga serta meningkatnya investasi di tengah turunnya pengeluaran pemerintah dan kinerja ekspor. Penurunan pengeluaran ini masing-masing karena pergeseran belanja pegawai dan penurunan nilai ekspor maupun impor sejalan dengan perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain jika melihat indikator perbankan, himpunan dana pihak ketiga atau DPK perbankan juga masih tumbuh yaitu sebesar 6,54% (YoY) atau sedikit melambat dari tahun sebelumnya sebesar 6,77% (YoY).

Perlambatan DPK antara lain dipengaruhi oleh pertumbuhan DPK yang tinggi pada masa pandemi yang di antaranya disebabkan terbatasnya konsumsi masyarakat seperti berkurangnya belanja untuk kebutuhan sandang, transportasi, dan wisata.

Perlambatan pertumbuhan DPK juga disebabkan oleh tingginya surplus di beberapa perusahaan korporasi (high base effect DPK tahun 2022), meningkatnya konsumsi masyarakat seiring dengan penyesuaian status pandemi menjadi endemi, peralihan arus dana asing ke luar seiring tingginya suku bunga global, serta dampak dari instrumen alternatif penempatan dana selain DPK yang semakin atraktif.

Selain itu, perlambatan DPK dan Kredit juga disebabkan adanya aksi sebagian korporasi yang melakukan self financing dengan menggunakan surplus cashflow di perbankan untuk membiayai kebutuhan belanja operasional. Hal tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan Kredit Modal Kerja (KMK) dibanding tahun lalu.

Dalam situasi demikian, kondisi likuiditas bank umum juga masih cukup memadai sebagaimana tecermin dari rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing sebesar 115,37% dan 25,83%, masih jauh di atas threshold.

Tingkat permodalan juga cukup solid dengan CAR sebesar 27,33% yang utamanya ditopang perbaikan tingkat rentabilitas (ROA) yang antara lain karena membaiknya tingkat efisiensi perbankan.

Risiko kredit juga terpantau membaik dengan rasio NPL gross dan NPL net yang menurun dan relatif stabil masing-masing menjadi 2,43% dan 0,77%.

Sejalan dengan kinerja bank umum, kinerja BPR dan BPRS juga cukup baik dengan kredit/pembiayaan dan DPK masih tumbuh tinggi meski melambat dibandingkan tahun sebelumnya, khususnya pada BPRS. Rasio permodalan juga cukup kuat dengan CAR BPR dan BPRS masing-masing sebesar 30,94% dan 28,12%.

Baca juga: OJK Minta Perbankan Blokir Rekening Terkait Judi Online

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru