Rabu, 21 Februari 2024

Penutupan Pasar Tahun Baru, Rupiah Melemah Dilevel Rp15.466

Baca Juga

Financialpost.ID Dalam penutupan pasar tahun baru, mata uang rupiah ditutup melemah 67 point walaupun sebelumnya sempat melemah 90 point dilevel Rp15.466 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.399.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sedangkan untuk perdagangan besok , mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.450 – Rp15.510.

Baca juga: Analis Bocorkan Faktor Yang Mempengaruhi Rupiah 2024

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Indonesia pada tahun 2023 sebesar 2,61% yoy, tingkat inflasi tersebut merupakan yang terendah dalam dua dekade terakhir.

“Inflasi yang landai pada tahun 2023 didorong pengendalian inflasi yang baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia (BI)” ujarnya.

Ia menambahkan, terlebih, pada tahun 2023 ada ketIdakpastian yang membayangi pergerakan inflasi dalam negeri, salah satunya fenomena kekeringan panjang atau El Niño.

“Selain itu, inflasi pada tahun 2023 rendah karena faktor basis tinggi. Pada tahun 2022, ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang menyulut inflasi. Sesuai pola musiman, biasanya tingkat inflasi akan menurun pada satu tahun setelah tahun adanya kenaikan harga BBM bersubsidi,” ujarnya.

Kemudian, pasar juga memantaui tentang kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 tercatat mengalami defisit Rp241,4 triliun per 28 Desember 2023.

“Angka defisit tersebut didapatkan dari realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp2.725,4 triliun. Sementara belanja negara terealisasi senilai Rp2.966,8 triliun,” katanya.

Adapun, realisasi pendapatan negara tersebut telah mencakup 110% target APBN awal senilai Rp2.463 triliun, atau tembus 103,3% dari target revisi yang tercantum dalam Perpres No. 75/2023 dengan angka Rp2.637,2 triliun.

Walaupun terjadi defisit, kinerja APBN selama 2023 dapat terjaga kuat dan sehat terutama terkait realisasi belanja negara yang semakin berkualitas dengan memastikan bahwa setiap rupiah dari APBN bermakna bagi masyarakat.

“APBN mampu berperan menjadi peredam benturan (shock absorber) atas risiko-risiko yang dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat,” ujar Ibrahim.

Terlebih, kondisi global yang sedang terjadi seperti konflik geopolitik, gejolak ekonomi, dan perubahan iklim membawa dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi global yang berdampak pada kondisi ekonomi Indonesia.

Baca juga: Pengamat Proyeksikan Kurs Rupiah di 2024

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru