Senin, 19 Februari 2024

Menguatnya Data Nonfarm Payrolls AS, Rupiah Melemah Jadi Rp15.525

Baca Juga

Financialpost.ID – Dalam penutupan pasar tahun baru, mata uang rupiah ditutup melemah 9 point walaupun sebelumnya sempat menguat 8 point dilevel Rp15.525 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.516.

Sedangkan untuk perdagangan besok , mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.510 – Rp15.550.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Baca juga: Penutupan Rupiah Melemah 25 Point, Dilevel Rp15.516

Dari faktor external yakni, para pedagang mengurangi taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunganya secepatnya pada bulan Maret.

“Gagasan ini diperburuk oleh data nonfarm payrolls yang lebih kuat dari perkiraan pada hari Jumat yang menunjukkan ketahanan di pasar tenaga kerja yang memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,” ujarnya.

Inflasi AS menjadi fokus setelah data nonfarm payrolls mengejutkan Pasar kini fokus pada data utama inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Kamis ini.

“Angka tersebut, yang muncul setelah laporan gaji yang kuat, diperkirakan menunjukkan peningkatan inflasi dari bulan sebelumnya,” kata Ibrahim.

Tanda-tanda inflasi yang kaku merupakan pertanda buruk bagi spekulasi penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed, mengingat pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua hal utama yang menjadi pertimbangan bank sentral ketika menyesuaikan kebijakan moneter.

The Fed juga telah memperingatkan bahwa tanda-tanda inflasi yang tinggi dan kekuatan pasar tenaga kerja kemungkinan besar akan menghambat penurunan suku bunga lebih awal.

Dari faktor internal yakni, rasa optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia di tahun 2024 semakin meningkat dikalangan pengusaha dan masyarakat cerdik pandai, terlebih memasuki tahun politik.

“Indonesia memiliki orang-orang kapabel yang nantinya bisa menjalankan tugas dalam mengatur perekonomian Indonesia. Mereka diproyeksi akan mendukung siapapun presiden yang terpilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 nanti,” Ujar Ibrahim.

Ia mengungkapkan, ada perilaku unik dari para pebisnis atau investor yang ada di Indonesia pada 2024 ini.

“Mereka akan menjalankan bisnis seperti biasa, dan tidak akan terganggu dengan berlangsungnya pemilu. Dan hal yang menarik dalam pemilu kali ini adalah bahwa dunia usaha baik asing maupun konglomerat besar Indonesia tidak menyesuaikan perilaku investasi atau komersialnya karena pemilu,” katanya.

Baca juga: Rupiah Melemah Tipis, Bank Sentral Terlalu Membatasi

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru