Selasa, 20 Februari 2024

Pinjol Harus Direformasi, OJK Jelas Tidak Berpihak Pada Masyarakat

Baca Juga

Financialpost.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan anyar terkait besaran suku bunga layanan fintech peer-to-peer lending (P2P lending) alias pinjaman online atau pinjol per 1 Januari 2024.

Di mana, suku bunga pinjol resmi turun dari 0,4% per hari menjadi 0,3% per hari. Suku bunga ini berlaku untuk pinjaman di sektor konsumtif.

Setelahnya, sampai 2026, suku bunga pinjol masih akan turun menjadi 0,2% per hari di 2025 dan 0,1% per hari di 2026.

Baca juga: Satgas Pasti OJK Blokir 625 Pinjol Ilegal dan 22 Investasi Bodong

Lalu, sejauh mana dampak penurunan suku bunga pinjol ini? Bagaimana tanggapan dari para pengamat?

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan bahwa bunga tersebut masih sangat tinggi untuk Masyarakat, dan idealnya bunga hanya dua atau tiga kali BI rate pertahunnya.

“Masih sangat tinggi itu. Jadi terpukau angka 0,3nya. Sebab, 0,3% per hari jadi kalau sebulan 9 persen. Setahun, 108 persen. Idealnya, besaran bunga hanya 2 atau 3 x BI rate per tahunnya,” ujar Heru saat dihubungi Financialpost.ID.

Heru menyebut bunga tinggi pinjol seperti lintah darat atau rentenir online, dan pinjol perlu direformasi serta OJK tidak berpihak terhadap masyarakat.

Menurutnya, bunga rendah pinjol membuat Tingkat pengembaliannya juga tinggi.

“Padahal, bunga rendah membuat tingkat pengembalian juga tinggi. Dan sekarang trilyunan rupiah yang masih belum dikembalikan dari pinjaman online,” ujarnya kepada Financialpost.ID.

Ia berharap capres dan cawapres yang akan terpilih nanti bisa mereformasi pinjaman online illegal.

“Semoga Capres Cawapres bila terpilih nanti mereformasi urusan pinjol ini. Apalagi pinjol banyak dipakai untuk judi online,” kata Heru kepada Financialpost.ID.

Di sisi lain, Direktur Ekonomi Digital dan Ekonom CELIOS Nailul Huda mengungkapkan bahwa penentuan suku bunga peer to peer lending sangay tricky dan perlu menyeimbangkan kepentingan borrower serta lender.

“Dalam penentuan suku bunga di P2P Lending sangat tricky karena harus menyeimbangkan kepentingan borrower dan lender,” ujarnya Nailul saat dihubungi Financialpost.ID.

Ia menyebut bahwa borrower ingin suku bunga yang lebih rendah, hal ini sudah diakomodir di roadmap untu beberapa tahun kedepan, dan suku bunga bisa ditekan ke angka 0,3 persen.

“Tapi bagi lender, dengan risiko yang tinggi di P2P Lending ya mereka menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi pula. Jika hakikat kepentingan borrower dan lender hilang atau cuman salah satu-nya saja, namanya bukan P2P Lending tapi perusahaan pembiayaan,” tutup Nailul kepada Financialpost.ID.

Baca juga: Debat Cawapres, Mahfud MD Sebut Pinjol Sangat Problematik

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru