Senin, 19 Februari 2024

Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Kokoh Hadapi Perlambatan Ekonomi Global

Baca Juga

Financialpost.ID – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengungkapkan, stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga dengan baik. Hal ini disampaikannya usai melakukan rapat bersama Anggota Dewan Komisioner OJK.

Mahendra mengatakan, terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, hingga profil risiko yang terjaga. Sehingga hal ini diharapkan mampu menghadapi potensi perlambatan ekonomi global.

Baca juga: Bos OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

“Indikator perekonomian secara global menunjukkan moderasi atau perlambatan pertumbuhan di beberapa negara, khususnya di negara-negara Uni Eropa dan China. Perlambatan pertumbuhan ekonomi mendorong inflasi turun mendekati target inflasi, sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk lebih akomodatif,” ujar Mahendra.

Di Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan akan menurunkan kebijakan suku bunga sebesar 75 basis points (bps) di tahun 2024 dengan pasar menilai ekonomi AS masih cukup resilien dan diperkirakan takkan mengalami resesi.

Secara umum, sentimen keuangan di pasar global cenderung positif pada Desember 2023. Hal ini didukung ekspektasi penurunan suku bunga Federal Funds Rate dan narasi soft landing di AS, sehingga mendorong kembali aliran dana masuk ke emerging markets dan penguatan pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Volatilitas baik di pasar saham, surat utang, maupun nilai tukar juga terpantau menurun. Di domestik, leading indicators seperti perekonomian nasional positif, di antaranya ditunjukkan oleh neraca perdagangan yang surplus dan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang masih ekspansif.

Namun demikian, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik ke depan seperti eskalasi ketegangan di Laut Merah imbas dari konflik antara Palestina yang melawan pendudukan Israel, serta penyelenggaraan pemilihan umum (pemilihan umum) yang mencakup 50 persen populasi dunia, termasuk di AS, Uni Eropa, India, Taiwan, dan Indonesia.

“Tingkat inflasi juga terjaga rendah di level 2,61 persen yoy (year on year) dibandingkan pada November 2023 sebesar 2,28 persen. Namun begitu, masih perlu dicermati perkembangan permintaan domestik ke depan seiring masih berlanjutnya penurunan inflasi inti, penurunan optimisme konsumen, dan melandainya pertumbuhan penjualan ritel dan kendaraan bermotor,” ungkap Mahendra.

Sebagai informasi tambahan, rapat yang dilakukan pada 3 Januari 2024 kemarin, berjudul ‘Sektor Jasa Keuangan Kokoh Hadapi Potensi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Global’ dinilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga baik.

Baca juga: Benahi Pinjol CS, OJK Luncurkan Roadmap Fintech P2P Lending 2023-2028

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru