Senin, 19 Februari 2024

Jelang Rilis Data AS, Rupiah Ditutup Melemah Dilevel Rp15.555

Baca Juga

Financialpost.ID – Rupiah ditutup melemah 5 poin ke Rp15.555 pada perdagangan Senin, 15 Januari 2024 jelang rilis data penjualan ritel AS akhir pekan ini.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Baca juga: Rupiah Menguat Dilevel Rp15.520, Dolar AS Menurun

Dari eksternal, pasar tampaknya mempertahankan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga lebih awal oleh Federal Reserve.

Alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang sebesar 70% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Maret, naik dari peluang 64% yang terlihat pada minggu lalu.

“Taruhan terhadap penurunan suku bunga lebih awal diperkuat oleh data pada hari Jumat, yang menunjukkan inflasi indeks harga produsen turun lebih dari perkiraan pada bulan Desember. Namun laporan tersebut didahului oleh data yang menunjukkan kenaikan inflasi CPI yang lebih besar dari perkiraan pada bulan tersebut,” ujarnya.

Fokus kini tertuju pada pidato sejumlah pejabat The Fed pada minggu ini, yang diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai rencana bank tersebut untuk menurunkan suku bunga tahun ini. Data penjualan ritel AS juga akan dirilis akhir pekan ini, dan diperkirakan akan menjadi faktor dalam prospek inflasi negara tersebut.

Selain itu, Bank Rakyat Tiongkok secara tak terduga mempertahankan suku bunga pinjaman jangka menengah tidak berubah. Langkah ini menunjukkan tidak adanya perubahan pada suku bunga acuan pinjaman PBOC pada bulan Januari.

Namun tidak adanya penurunan suku bunga juga menunjukkan bahwa PBOC memiliki ruang terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut dan mendukung perekonomian Tiongkok.

Data produk domestik bruto kuartal keempat, yang dirilis pada hari Rabu, diperkirakan menunjukkan bahwa perekonomian Tiongkok tumbuh lebih dari target pemerintah sebesar 5% pada tahun 2023.

Namun pertumbuhan tersebut juga berasal dari basis yang rendah untuk dibandingkan dengan tahun 2022. Kekhawatiran atas melambatnya pemulihan ekonomi pasca-COVID di Tiongkok membebani yuan sepanjang tahun lalu, dengan mata uang tersebut berada di peringkat unit Asia dengan kinerja terburuk pada tahun 2023.

Baca juga: Denda Miliaran Rupiah Hingga Cabut Izin Usaha Untuk Pelaku Pasar Modal Yang Nakal

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

Berita Terbaru